Rabu, 22 Desember 2010

Kenakalan Remaja Akibat Penyalahgunaan Waktu Luang

Gak tahu ada angin apa, tiba-tiba saya ingin menulis tantang kenakalan remaja hari ini. Mungkin karena hari ini adalah hari ibu. Jadi mungkin ini sebagai persembahan saya untuk mama. Ooh,,,, ya sudahlah,,,,, ^_^
Kenakalan remaja dalam studi kasus masalah social dapat digolongkan kedalam perilaku penyimpangan (menyimpang dari berbagai aturan-aturan social ataupun norma social yang berlaku).
          Salah satu hal yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah penyalahgunaan waktu luang. Dikarenakan kegiatan anak remaja pada umumnya hanya berkutat seputar sekolah dan menyelesaikan pekerjaan rumah saja, dan setelah itu mereka bebas (tanpa kegiatan). Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luang pada si anak tersebut dengan berbagai bentuk kegiatan. Mungkin apabila si anak tersebut melakukan hal yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Akan tetapi, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Perbuatan negatif ini seringkali terjadi hanya karena terdorong rasa iseng saja. Perbuatan/tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu luang,  juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, acapkali kawan sebayanya sering menganggap iseng berbahaya tersebut merupakan salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, kebut-kebutan di jalan, merusak fasilitas umum, minum minuman keras, penggunaan NAFZA/penyalahgunaan obat bius, dan sebagainya. Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si anak remaja itu sendiri, sering pula karena dorongan kawan sepergaulannya yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan diasingkan oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini tentunya akan menimbulkan tidak enak hati bagi si anak remaja tersebut, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus dan tersesat.
Studi kasus:
Saya ingin berbagi cerita saat saya masih duduk di bangku SMK. Banyak orang yang berfikir bahwa SMK terutama Teknik itu keras dan anak-anaknya cenderung brutal. Peminatnyapun saya kategorikan minimal pada saat itu, terbukti pada saat  saya masuk jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Satu angkatan kami hanya ada 42 siswa (sama dengan satu kalas program keahlian kelas lain), itupun yang bertahan sampai lulus hanya 32 siswa saja termasuk saya. Dari 32 siswa ini saya golongkan menjadi 2 golongan siswa, yakni siswa yang aktif (baik oraganisasi (eksta/intra) maupun di kelas) dan siswa yang pasif. Sesuai pengalaman saya, mereka yang aktif di sekolah cenderung memanfaatkan waktu luang dengan berbagai kegiatan positif yang diadakan berkenaan dengan organisasi sekolah (Contoh: setiap hari minggu kami yang tergabung dalam Bandung Karate Club selalu ikut latihan gabungan yang diadakan oleh pengurus cabang). Lain halnya dengan mereka yang memiliki banyak waktu luang yang sangat luas tapi tak memiliki kegiatan terstruktur, mereka hanya dapat memanfaatkan waktu luangnya dengan hanya bermain apalagi mereka yang memiliki orang tua dengan  kegiatan yang sangat sibuk dan kurang memperhatikan mereka (tak ada acara keluarga di akhir pekan). Anak-anak tersebut benar-benar hanya menghabiskan waktunya dengan bermain tak jelas tanpa tujuan. Mereka cenderung iseng membuat atau bergabung dengan komunitas-komunitas yang terkadang salah dan melakukan hal-hal yang tergolong pada tindakan kenakalan remaja.
Oleh karena itu, peran orang tua dalam memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya memberikan batasan atas perilaku iseng mereka tersebut. Karena dari fakta nyata yang saya temui, anak-anak yang cenderung di kekang oleh orang tuanya pada saat mereka merasa tertekan, mereka akan melesat lebih jauh dari jangkauan orang tuanya. Hal tersebut merupakan wujud dari penolakan akan pengekangan yang dilakukan oleh sang orang tua. Ada baiknya jika orangtua ikut memikirkan pula acara untuk mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan anak. Hendaknya orangtua jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari dan hanya memenuhi kebutuhan materi si anak saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Si anak, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki si anak dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.


Rhesty 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar